Cara terbaik Operator Taksi Bersahabat Dengan Aplikasi


Sejak pagi agak kuatir melintasi wilayah MT.Haryono hingga Kuningan Barat, pasalnya saya adalah salah satu dari sekian banyak masyarakat yang menggunakan transportasi masalah. Dari Stasiun Depok Lama hingga Stasiun Cawang menggunakan Commuterline, terdengar sayup berita demo atas nama Paguyuban Pengemudi Angkutan Darat (PPAD) Jakarta hari ini di radio Elshinta (22/03). 

Jalur TransJakarta dari halte Cawang menuju Kuningan Barat cukup padat pasalnya melintas iringan mobil taksi dari berbagai brand dari mulai si BIRU, PUTIH, dan KUNING serta yang lainnya memang yang cukup populer ada dua operator taksi yakni BIRU dan PUTIH. Berita pun mengalir deras tentang aksi anarkis para pendemo hingga sosial media terasa "membully" kedua operator taksi tersebut. Sebagai penggiat sosial media saya sudah sejak lama bergabung di akun resmi Facebook mereka hingga menulis beberapa artikel tentang geliat mereka.

Derasnya Bully-an untuk kedua operator taksi tersebut via sosmed jadi cambuk bagi perusahaan untuk berfikir kreatif dan berinovasi memenangkan pasar, bukanlah supir taksi yang harus berdemo mereka menurut saya hanya korban dari ketidaksiapan para perusahaan operator taksi. Namun sisi lain kita juga harus melihat aturan dan regulasi yang mengambang dari pemerintah, akan tetapi bukan berarti cengeng untuk menunggu regulasi yang jelas serta tegas.

Sembari menunggu aturan setidaknya perusahaan operator taksi sudah mempersiapkan beberapa strategi jitu untuk memenangkan pelanggan, hal itu pernah saya bahas di artikel sebelumnya. 

Solusi Yang Peduli Dengan Taksi

Sebetulnya banyak yang peduli terhadap kelangsungan transportasi khususnya taksi, namun dengan aksi ini banyak yang benci dengan aksi oknum supir yang melakukan tindak anarkis, hingga hari ini (22/03) via sosmed salah satu operator taksi menyediakan shuttle bus gratis di 15 titik mall. 

Solusi pun dilontarkan oleh netter di akun resmi Facebooknya berikut saran yang menurut keren dan patut di baca yang ditulis oleh akun Hirseno Zuhursy :

TAKSI BIRU. Dengan aset Rp7,1 triliun dan laba hingga Rp830 miliar (2015), hal-hal berikut ini mestinya bisa dilakukan manajemen taksi biru dengan mudah:

1. Mengembangkan sistem aplikasi yang memudahkan konsumen (pemantauan posisi armada dan konsumen atau tagging lokasi, identitas sopir dan mobil, estimasi pembayaran, rating kualitas pelayanan dll)

2. Membekali sopirnya dengan GPS atau smartphone, dengan skema cicilan, seperti yang dilakukan ojek online.

3. Merumuskan formulasi tarif yang terlalu lama lupa turun, meski harga BBM sudah lebih murah.

4. Mengujicoba sistem sharing taksi seperti di Korea Selatan, di mana penumpang bisa berbagi taksi yang sama, agar harga bisa ditekan. Isu keamanan dan kenyamanan bisa mulai diujicoba dengan aplikasi berbasis jejaring media sosial dan tagging lokasi. Sistem hanya akan mengambil penumpang untuk sharing bila mereka saling kenal dan lokasinya satu arah. Formulasi tarifnya dapat dirumuskan.

Apa gunanya armada 7 seaters, bila penumpangnya hanya 1-2 orang?

Tapi semua ini tidak dilakukan. Sembari menikmati privilege jalur 3 in 1, mereka memilih tetap menjadi imperium "old economy" dan mempertahankan sistem hubungan industrial yang membuat posisi sopir sebagai buruh transportasi, makin rentan, lemah dalam daya saing, dan kini terpaksa meluapkan kemarahan akibat nasib keluarga yang dipertaruhkan.

Sungguh mengerikan dampak sebuah kerakusan.


So, Friends mereka boleh berpendapat namun mau tidak mau perusahaan operator taksi harus bersahabat dengan aplikasi sebagai solusi terbaik dan modern saat ini. Pertanyaannya apakah supir taksi pun mau ikut inovasi via aplikasi ?
Share on Google Plus

About abayamin exit

Abayamin exit adalah sebuah nickname penulis ExitBlog yang tergabung dalam Exitmedia.Inc, penulis juga berkreasi melalui bisagini.com dan helloadventuria.blogspot.com. Informasi lebih lanjut bisa hubungi melalui Contact Us.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar:

  1. baru berapa bulan diterima adsense gan?

    ReplyDelete
  2. bagi saya, transportasi itu baik convensional ataupun yang mengekuti pekembangan teknologi (Aplikasi)itu tak perlu ada demo, turunnya pendapatan bukan karena pesaing tapi karena..............

    ReplyDelete

Terima kasih komentar anda yang membangun, kritis dan informatif. Mohon tidak lakukan spam maupun junk, untuk kemajuan kita bersama, budayakan komentar setiap kali anda melihat artikel di EXITWRITER